Memantik Harap di Tenda Darurat

Des 8, 2025

Kelas psikososial di tenda-tenda darurat adalah upaya memulihkan harapan sekaligus mengembalikan rasa aman dan optimisme murid-murid. Sementara kehadiran Mendikdasmen beserta Dirjen PAUD Dasmen menambah semangat bagi warga sekolah yang tengah berupaya bangkit dari bencana.

-o0o-

LANGIT di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, belum sepenuhnya cerah. Awan kelabu masih menggantung di atas halaman sekolah yang kini dipenuhi tenda-tenda darurat. Lumpur sisa banjir besar beberapa pekan lalu masih menempel di sudut-sudut bangunan. Namun, dari salah satu tenda kecil, terdengar suara yang mematahkan kesunyian: nyanyian anak-anak PAUD, riang dan tak kenal takut.

Di ruang belajar sementara itu, tikar plastik menjadi alas duduk. Anak-anak berbaris kecil, sebagian masih mengenakan sandal pinjaman. Ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, dan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dasmen), Gogot Suharwoto melangkah masuk, mereka menyambutnya dengan mata berbinar.

Dua sosok itu duduk di lantai, sejajar dengan anak-anak, lalu ikut bernyanyi dan tertawa bersama mereka. Menemani Menteri Mu’ti membacakan dongeng, kedua mata Dirjen Gogot berkaca-kaca mengamati respon anak-anak yang tampak ceria.

Dalam dongeng yang dibacakan, Menteri Mu’ti berubah menjadi “harimau yang harus tanggap”. Anak-anak menirukan gerakannya, tertawa lepas, seolah lupa bahwa beberapa pekan lalu mereka menyaksikan air bah menelan rumah dan sekolah. Di tenda itu, ketakutan perlahan berubah menjadi keceriaan.

“Anak-anak semuanya harus jadi anak yang baik, saling membantu, sayang kepada teman, sayang kepada ayah dan bunda, dan tetap ceria meskipun situasi seperti saat ini,” kata Menteri Mu’ti dengan suara lembut, Minggu, 7 Desember 2025. Kalimat sederhana itu disambut tawa dan tepuk tangan kecil, seakan menjadi janji bersama untuk kembali tersenyum.

Di kelas itu, para pendamping psikososial mengajak anak-anak bernyanyi bersama, mendongeng untuk murid PAUD, hingga melakukan permainan sederhana untuk mengembalikan rasa aman dan keceriaan setelah bencana. Keikutsertaan Menteri Mu’ti dan Dirjen Gogot dalam sesi tersebut, membuat suasana semakin hidup.

Beberapa anak mengangkat tangan dengan penuh percaya diri. Satu per satu menyebutkan cita-cita. Ada yang ingin menjadi pendongeng, ada yang bermimpi mengenakan seragam polisi, bahkan ada yang berujar ingin menjadi menteri. Menteri Mu’ti dan Dirjen Gogot mendengarkan semuanya dengan sabar, membalas dengan senyum dan pujian. Di tengah tenda darurat, mimpi-mimpi kecil itu kembali dinyalakan.

Momen itu bukan sekadar interaksi simbolik antara pejabat dan murid. Ia adalah bagian dari upaya memulihkan rasa aman anak-anak yang trauma oleh galodo. Bagi mereka, sekolah bukan lagi sekadar bangunan; ia adalah tempat untuk kembali merasa dilindungi, tertawa, dan berani berharap.

Tak jauh dari Kabupaten Agam, di beberapa sekolah di Batang Anai, Padang Pariaman, jejak banjir masih jelas terlihat. Kursi dan meja yang tersisa berdiri miring, dinding kelas masih berlapis lumpur. Guru dan murid bergotong royong membersihkan sekolah, menyapu tanah merah yang terbawa arus air.

Saat Menteri Mu’ti dan Dirjen Gogot datang menyerahkan bantuan pendidikan awal, suasana sekolah belum sepenuhnya pulih. Bantuan yang diserahkan meliputi school kit untuk 100 siswa, family kit, serta dana tunai untuk guru dan sekolah. Sederhana, tetapi menjadi penopang awal untuk kembali membuka pintu kelas.

“Proses pembersihan di sekolah ini terus dilakukan. Kami tadi sedikit memberikan bantuan supaya prosesnya bisa lebih cepat,” ujar Menteri Mu’ti.

Bagi para murid terdampak banjir bah, bantuan itu lebih dari sekadar paket perlengkapan sekolah. Mereka masih mengingat detik-detik ketika banjir menghantam rumahnya.

Kepala SMA Negeri 1 Batang Anai, Zulbaedah, menyebut kehadiran pemerintah pusat sebagai suntikan semangat bagi warga sekolah. “Alhamdulillah Bapak Menteri dan Dirjen hadir, memotivasi serta memberikan bantuan agar lumpur dapat segera dibersihkan, sehingga proses belajar bisa kembali dilaksanakan,” ujarnya, menatap halaman sekolah yang perlahan berubah dari kubangan lumpur menjadi ruang harapan.

Kelas psikososial di tenda-tenda darurat dan bantuan di sekolah-sekolah terdampak bukan sekadar respons cepat atas bencana. Di baliknya, ada upaya memulihkan rasa aman dan optimisme anak-anak dari PAUD hingga SMA.

Pendampingan langsung dari Kemendikdasmen menjadi suntikan semangat bagi warga sekolah yang tengah bangkit dari bencana. Setiap bantuan dan setiap senyum anak-anak yang kembali muncul menjadi tanda bahwa pemulihan perlahan berjalan.

“Pemulihan mungkin belum selesai, tetapi pemerintah memastikan hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan layak tetap menjadi prioritas utama,” tegas Dirjen Gogot.

Di tenda kecil tempat anak-anak bernyanyi, dan di ruang kelas berlumpur tempat murid-murid menata kembali mimpi mereka, pendidikan menemukan maknanya yang paling dasar. Bahwa di tengah galodo, hak untuk belajar, tertawa, dan bermimpi harus tetap menyala—meski pelan, meski dimulai dari tenda darurat.*

-o0o-

*Diolah dari berbagai sumber, di antaranya:

Share:
No Comments
Berikan komentar
Unduh FileSE Mendikbud Nomor 1 Tahun 2021
UNDUH SEKARANG
logo

DIREKTORAT JENDERAL

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH

Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2024 menjelaskan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah diantaranya adalah menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, serta pelaksanaan fasilitasi penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
KONTAK KAMI
KANTOR PUSATKompleks Kemdikbud Gedung E Lantai 5 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270
021-5725610
021-5725610
pauddikdasmen@kemdikbud.go.id
Senin - Jumat 08.00 - 16.00 WIB
Copyright © 2020 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi All rights reserved.